Awalan


                                                  



Saya Rizky Rama Putra, Emang semua yang Pemulaan pasti susah deh. dan saya coba untuk memulai sesuatu yang baru nih dalam hidup saya. Sekedar Informasi, untuk blog saya yang sekarang..

Saya akan mengarahkan blog ke Informasi-Informasi yang informatif. Dan pastinya akan mengarah ke sumber yang jelas. tidak hanya sekedar untuk panjat sosial.


Terimakasih
Salam

Tools-tools pada Audit


Tools-tools yang digunakan untuk melakukan Audit

1. ACL (Audit Command Language)
Merupakan perangkat lunak dalam pelaksanaan audit yang di design khusus untuk melakukan analisa data elektronik suatu perusahaan dan membantu menyiapkan laporan audit secara mudah dan interaktif. ACL dapat digunakan untuk user biasa atau yang sudah ahli.
2. Picalo
Picalo adalah perangkat lunak yang dapat digunakan untuk melakukan analisa data yang dihasilkan dari berbagai sumber. Picalo dikemas dengan GUI (Graphis User Interface) yang mudah digunakan, dan dapat berjalan di berbagai sistem operasi.
3. Metasploit
Metasploit merupakan perangkat lunak yang dapat membanttu keamanan dan sifat profesionalisme teknologi informasi seperti melakukan identifikasi masalah keamanan, verifikasi kerentanan, dapat melakukan scanning aplikasi website, dan rekayasa sosial.
4. NMap (Network Mapper)
NMap bersifat open source yang digunakan untuk audit dalam hal keamanan. Sistem dan administrator menggunakan perangkat lunak ini sebagai persediaan jaringan, mengelola jadwal layanan untuk upgrade, jenis firewall apa yang sedang digunakan, dan lain-lain. NMap berjalan pada semua sistem operasi dan paket biner seperti Linux, serta dapat melakukan transfer data secara fleksibel.
5. Wireshark
Wireshark adalah jaringan terkemuka pada analyzer protocol. Perangkat ini dapat membantu dalam melakukan penangkapan dan interaksi dalam penelusuran lalu lintas yang berjalan pada jaringan komputer.

Cobit

     Control Objective for Information & Related Technology (COBIT) adalah sekumpulan dokumentasi best practice untuk IT Governance yang dapat membantu auditor, pengguna (user), dan manajemen, untuk menjembatani gap antara resiko bisnis, kebutuhan kontrol dan masalah-masalah teknis IT (Sasongko, 2009).
     COBIT mendukung tata kelola TI dengan menyediakan kerangka kerja untuk mengatur keselarasan TI dengan bisnis. Selain itu, kerangka kerja juga memastikan bahwa TI memungkinkan bisnis, memaksimalkan keuntungan, resiko TI dikelola secara tepat, dan sumber daya TI digunakan secara bertanggung jawab (Tanuwijaya dan Sarno, 2010).
     COBIT merupakan standar yang dinilai paling lengkap dan menyeluruh sebagai framework IT audit karena dikembangkan secara berkelanjutan oleh lembaga swadaya profesional auditor yang tersebar di hampir seluruh negara. Dimana di setiap negara dibangun chapter yang dapat mengelola para profesional tersebut.

cobit terdiri dari beberapa arahan/pedoman 
1.Control objectives
2.Audit Guidlines
3.Management Guidlines

Rancangan Aplikasi Gambar 3D Hewan Laut Berbasi Augmented Reality

Rancangan Aplikasi Gambar 3D Hewan Laut Berbasi Augmented Reality
Rizky Rama Putra
Jurusan Sistem Informasi
Fakultas Ilmu Komputer dan Teknologi Informasi, Universitas Gunadarma

ABSTRAK
            Seiring dengan perkembangan zaman dan kemajuan teknologi. Memudahkan Manusia untuk melakukan aktifitas untuk memaksimalkan banyak pekerjaan, dengan adanya teknologi Augmented Reality (AR) membantu menampilkan bentuk tiga dimensi kedalam bentuk nyata membuat adanya ketertarikan dan pembelajaran baru untuk merangsang otak untuk berimajinasi. Sehingga dalam kemajuan teknologi AR membantu pembelajaran dengan cara yang menyenangkan melihat objek tiga dimensi di dunia nyata.



1.1.Latar belakang masalah
Kemajuan dunia teknologi informasi berkembang begitu cepat penemuan dan inovasi telah membawa perubahan dalam kehidupan manusia. Kehadiran teknologi ini telah memudahkan manusia melakukan aktifitas teknologi informasi, dimaksudkan untuk mencapaikan hasil secara efisien, efektif dan ketepatan pengguna. dengan kemajuan ini telah terciptanya teknologi smartphone berbasis android.
Android merupakan sistem operasi yang dikembangkan android inc dan di dukung oleh google finansial, android berkembang menjadi suatu perhatian manusia, bukan hanya untuk sekedar hiburan tetapi juga mempermudah pekerjaan di banyak bidang. Salah satunya di bidang pendidikan, dengan membuat aplikasi untuk mengajarkan siswa-siswi Taman Kanak-kanak (TK) berbasis android untuk membantu merangsang imajinasi dan kreatifitas.
Media pembelajaran menggunakan penggabungan media cetak dan media digital dapat diwujudkan dengan adanya Augmented Reality (AR). Augmented Reality merupakan teknologi yang menggabungkan benda maya dua dimensi atau tiga dimensi kedalam sebuah lingkungan nyata tiga dimensi dan memproyeksikan benda maya dalam waktu nyata.
Augmented Reality di bidang pendidikan membuat adanya pengalaman pembelajaran yang baru. Menggunakan objek tiga dimensi dalam waktu nyata, membuat adanya ketertarikan siswa dalam belajar dan untuk memajukan dibidang pendidikan. Salah satu yang menarik bagi siswa taman kanak-kanak untuk mengajarkan makhluk hidup mamalia laut kedalam objek tiga dimensi dalam waktu nyata.
1.2. Batasan masalah
Pada penulisan ini agar lebih terarah dan terfokus pada tujuan yang ingin dicapai, maka ruang lingkup dalam pembuatan aplikasi ini yaitu memperkenalkan hewan laut Lumba-lumba, Lumba-lumba hidung botol, Hiu , Hiu kepala martil, Orca, dan Paus. Yang disajikan dengan gambar tiga dimensi berbasis android. Pembuatan aplikasi ini menggunakan Unity dan blender.
1.3. Tujuan penulisan
Tujuan penulisan ini adalah untuk membuat aplikasi Augmented Reality yang berjalan pada smartphone dengan sistem operasi android untuk meperkenalkan hewan mamalia laut dengan gambar tiga dimensi kepada siswa dan siswi taman kanak-kanak agar merangsang imajinasi dan kreatifitas.
1.4. Metode penelitian
Pada penulisan ini penulis menggunakan beberapa metode penelitian yaitu:
a.       Analisis
Analisis dilakukan untuk mengetahui kebutuhan sistem yang diperlukan untuk pembuatan dan penggunaan aplikasi AR.
b.      Perancangan
Tahap ini dimulai dari perancangan objek tiga dimensi, pencangan design marker, relasi antara marker dan objek tiga dimensi.
c.       Penentuan perangkat keras dan lunak
Penelitain ini membutuhkan operasional pada sistem yaitu  perangkat keras untuk membangun system serta perangkat lunak.
1.      Perangkat keras yang digunakan dalam penelitin ini adalah :
-          Laptop dengan processor core i5
-          Kapasitas Random Access Memory (RAM) 8GB
-          Harddisk dengan kapasitas 500GB
-          VGA NVIDIA GEFORCE 920M
-          Handphone android
2.      Perangkat lunak
-          Unity 5.3.4f1 (64-bit)
-          Blender
d.      Implementasi
Tahap implementasi, penulis mengimplimentasikan semua rancangan ya sudah di rancang yaitu perancangan objek tiga dimensi, perancangan design marker, relasi antar marker dan objek tiga dimensi serta membuat aplikasi.
e.       Uji coba dan analisis
Pada penelitian ini penulis melakukan uji coba dan analisis untuk melihat apakah aplikasi yang telah dibuat berjalan sesuai harapan dan tujuan.

Kesimpulan dan Saran
1.      Kesimpulan
Dari proses analisis dan perancangan aplikasi ini jelas untuk mengembangkan imajinasi anak mengetahui bentuk dan model yang nyata bukan hanya sekedar dari gambar yang biasa di lihat di katalog atau majalah-majalah saja

2.      Saran
Untuk pengembangan aplikasi selanjutnya lebih di perhalus dari objek-objek yang di buat untuk lebih sempurna lagi dan lebih menarik

DAFTAR PUSAKA







laporan ilmiah

Laporan Ilmiah
Laporan ilmiah adalah pemecahan suatu problem atau jawaban suatu pertanyaan, yang didukung oleh fakta yang dibuktikan benarnya oleh penulisnya.
Laporan itu adalah bentuk prosa ilmiah yang dikembangkan untuk keperluan sains, kria,dan usaha. Dan biasanya ditulis atas permintaan,perintah atau jasa komisi, walaupun kadang - kadang laporan itu diterbitkan atas kehendak dan biaya penulisnya sendiri.
Unsur-unsur Kerangka Laporan
Unsur-unsur sebagai berikut :
Halaman Judul
Biasanya terdiri dari 3 atau 4 bagian yang disusun dari atas bawah sebagai berikut :


a)      Judul laporan terdiri dari subjek, atau didahului dengan ‘Laporan Tentang’, ’Laporan Kemajuan tentang’, ’Laporan Tahunan tentang’, ‘Penelitian tentang’ dan sebagainya. Judul laporan berbeda dari judul buku.


b)      Nama dan identitas penerima laporan

Unsur ini tidak selalu ditulis. Jika ditulis, maka sebelumnya didahului dengan kata-kata 'Diserahkan kepada'. Jika penerima laporan memiliki kedudukan resmi, tulislah kedudukan itu


c)      Nama dan identitas penulis

Sebelum nama penulis biasanya didahului dengan perkataan 'Oleh' dan diikuti oleh gelar.


d)      Tempat dan tanggal

Dibagian bawah halaman ditulis tempat dan tanggal dalam 2 baris terpisah.
Manfaat Penyusunan Laporan
Laporan kegiatan merupakan alat yang penting untuk :


·         Dasar penentuan kebijakan dan pengarahan pimpinan.


·         Bahan penyusunan rencana kegiatan berikutnya.


·         Mengetahui perkembangan dan proses peningkatan kegiatan.


·         Data sejarah perkembangan satuan yang bersangkutan dan lain-lain
Praktik Menyusun Laporan Ilmiah
1. Bagian Pembuka
Cover
Halaman judul
Halaman pengesahan
Abstraksi
Kata pengantar
Daftar isi
2. Bagian Isi
         Bab I Pendahuluan
                1.1    Latar belakang masalah
                1.2    Perumusan masalah
                1.3    Pembahasan atau pembatasan masalah
                1.4    Tujuan penelitian
                1.5    Manfaat penelitian
        Bab II Kajian teori atau tinjauan kepustakaan
                2.1    Pembahasan teori
                2.2    Kerangka pemikiran dan argumentasi keilmuan
                2.3    Pengajuan hipotesis
       Bab III Metodologi penelitian
                3.1    Waktu dan tempat penelitian
                3.2    Metode dan rancangan penelitian
                3.3    Populasi dan sampel
                3.4    Instrumen penelitian
                3.5    Pengumpulan data dan analisis data
       Bab IV Hasil Penelitian
                4.1    Jabaran varibel penelitian
                4.2    Hasil penelitian
                4.3    Pengajuan hipotesis
                4.4    Diskusi penelitian, mengungkapkan pandangan teoritis tentang hasil yang didapatnya
       Bab V Penutupan
5.1       Kesimpulan
5.2    Saran
3. Bagian penunjang


·         Daftar pustaka


·         Lampiran- lampiran antara lain instrumen penelitian


·         Daftar Tabel

Penyajian Lisan
Latar Belakang Keterampilan berbahasa mencakup empat komponen dasar ,yaitu menyimak, berbicara, membaca dan menulis. Keempat keterampilan ini diperoleh secara bertahap dan teratur serta berhubungan satu sama lain. Meskipun keterampilan berbicara ini telah diperoleh oleh setiap orang ketika masa kanak-kanak, kebutuhan mahasiswa akan kemampuan berbicara tak dapat diabaikan begitu saja. Penyajian lisan dapat disejajarkan dengan berbicara. Berbicara adalah suatu keterampilan berbahasa yang berkembang pada kehidupan masa kanak-kanak yang hanya didahului oleh keterampilan menyimak, pada massa tersebutlah keterampilan berbicara dipelajari. Berbicara sudah barang tentu berhubungan erat dengan perkembangan kosakata yang diperoleh oleh setiap orang melalui kegiatan menyimak dan membaca atau juga menulis. Untuk memenuhi kebutuhan pembelajarannya, kebutuhan mahasiswa akan berbicara tidak lagi mengarah ke situ, tetapi lebih berorientasi kepada proses penyajian lisan sebagai wadah penyampaian suatu gagasan. Kemahiran dalam penyajian lisan bukan hanya menuntut penggunaan bahasa yang baik dan lancar melainkan juga menghendaki persyaratan-persyaratan lain, misalnya : kebenaran, ketenangan sikap, kesanggupan mengadakan reaksi yang cepat dan tepat, kesanggupan menampilkan gagasan-gagasannya secara lancar dan teratur, serta ketidakkakuan dan ketidakcanggungan gerak. Seiring dengan perkembangan bahwa penyajian lisan itu sudah menjadi salah satu kebutuhan mahasiswa. Alasannya bahwa di samping mahasiswa harus mampu mengungkapkan pikiran,gagasan,dan sikap ilmiahnya ke dalam berbagai bentuk karya ilmiah yang berkualitas, juga mereka harus mampu menyajikan karya ilmiah yang ditulisnya di depan forum sesuai dengan kriteria penyajian yang baik. Untuk hal tersebut, berikut akan disajikan dua bentuk penyajian lisan, yaitu presentasi ilmiah dan berpidato.

Daftar Pustaka



ASPEK PENALARAN DALAM KARANGAN ILMIAH

I.       PENALARAN ILMIAH

Setiap hipotesis berguna akan memungkinkan prediksi berdasarkan penalaran. Penalaran dapat dibagi menjadi dua kategori: deduksi dan induksi. Kebanyakan penalaran dalam ilmu dilakukan melalui induksi. Menurut Menurut Minto Rahayu, (2007 : 35), “Penalaran adalah proses berpikir yang sistematis untuk memperoleh kesimpulan atau pengetahuan yang bersifat ilmiah dan tidak ilmiah. Bernalar akan membantu manusia berpikir lurus, efisien, tepat, dan teratur untuk mendapatkan kebenaran dan menghindari kekeliruan. Dalam segala aktifitas berpikir dan bertindak, manusia mendasarkan diri atas prinsip penalaran. Bernalar mengarah pada berpikir benar, lepas dari berbagai prasangka emosi dan keyakinan seseorang, karena penalaran mendidik manusi bersikap objektif, tegas, dan berani, suatu sikap yang dibutuhkan dalam segala kondisi”.
Sedangkan Widjono, (2007 : 2009), mengungkapkan penalaran dalam beberapa definisi, yaitu:
·         Proses berpikir logis, sistematis, terorganisasi dalam urutan yang saling berhubungan sampai dengan simpulan.
·         Menghubung-hubungkan fakta atau data sampai dengan suatu simpulan.
·         Proses menganalisis suatu topik sehingga menghasilkan suatu simpulan atau pengertian baru.
·         Dalam karangan terdiri dari dua variabel atau lebih, penalaran dapat diartikan mengkaji, membahas, atau menganalisis dengan menghubungkan variabel yang dikaji sampai menghasilkan suatu derajat hubungan dan simpulan.
·         Pembahasan suatu masalah sampai menghasilkan suatu simpulan yang berupa pengetahuan atau pengertian baru.
Jadi, dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa penalaran adalah proses pemikiran yang logis untuk memperoleh kesimpulan berdasarkan fakta yang relevan (sebenarnya). Atau dengan kata lain, penalaran adalah proses penafsiran fakta sebagai dasar untuk menghasilkan dan menarik kesimpulan.


II.  MENULIS SEBAGAI PROSES PENALARAN

Menulis merupakan proses bernalar. Untuk menulis suatu topik kita harus berfikir, menghubung-hubungkan berbagai fakta, membandingkan dan sebagainya.

 III. Jenis Penalaran
Minto Rahayu, (2007 : 41), penalaran dapat dibedakan dengan cara induktif dan deduktif.
1)      Penalaran induktif
Ialah proses berpikir yang bertolak dari satu atau sejumlah fenomena atau gejala individual untuk menurunken suatu kesimpulan (inferesi) yang berlaku umum.
Proses induksi dapat dibedakan menjadi:
  • Generalisasi  ialah proses berpikir berdasarkan pengamatan atas sejumlah gejala dengan sifat-sifat tertentu untuk menarik kesimpulan umum mengenai semua atau sebagian dari gejala serupa.
  • Analogi ialah suatu proses berpikir untuk menarik kesimpulan atau inferensi tentang kebenaran suatu gejala khusus berdasarkan beberapa gejala khusus lain yang memiliki sifat-sifat atau ciri-ciri esensial penting yang bersamaan.
  • Sebab akibat, prinsip umum hubungan sebab akibat menyatakan bahwa semua peristiwa harus ada penyebabnya.

2)      Penalaran deduktif
Ialah proses berpikir yang bertolak dari prinsip, hukum, putusan yang berlaku umum tentang suatu hal atau gejala atas prinsip umum tersebut ditarik kesimpulan tentang sesuatu yang khusus, yang merupakan bagian dari hal atau gejala diatas.

IV. Isi Karangan
Isi karangan menyajikan fakta yang berupa benda, kejadian, gejala, sifat ramalan, dan sebagiannya. Karya ilmiah membahas fakta meskipun untuk pembahasan ini diperlukan teori atau pendapat. Dalam bagian ini akan dibahas hal-hal yang berhubungan dengan fakta, yaitu generalisasi dan spesifikasi, klasifikasi, perbandingan dan pertentangan, hubungan sebab akibat, analogi, dan ramalan.


V. Fakta Sebagai Unsur dalam Penalaran Ilmiah

Agar dapat menalar dengan tepat, perlu kita memiliki pengetahuan tentang fakta yang berhubungan. Jumlah fakta tak terbatas, sifatnya pun beraneka ragam. Oleh sebab itu, sebagai unsur dasar dalam penalaran ilmiah, kita harus mengetahui apa pengertian dari fakta.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), fakta memiliki definisi sebagai hal (keadaan atau peristiwa) yang merupakan kenyataan; sesuatu yang benar-benar ada atau terjadi. Selain itu, fakta juga merupakan pengamatan yang telah diverifikasi secara empiris (sesuai dengan bukti atau konsekuensi yang teramati oleh indera). Fakta bila dikumpulkan secara sistematis dengan beberapa sistem serta dilakukan secara sekuensial maka fakta tersebut mampu melahirkan sebuah ilmu. Sebagai kunci bahwa fakta tidak akan memiliki arti apa-apa tanpa sebuah teori dan fakta secara empiris dapat melahirkan sebuah teori baru.

Untuk memahami hubungan antara fakta-fakta yang sangat banyak itu, kita perlu mengenali fakta-fakta itu secara sendiri-sendiri. Ini berarti bahwa kita harus mengetahui ciri-cirinya dengan baik. Dengan begitu, kita dapat mengenali hubungan di antara fakta-fakta tersebut dengan melakukan penelitian.

Selain itu, kita dapat menggolong-golongkan sejumlah fakta ke dalam bagian-bagian dengan jumlah anggota yang sama banyaknya. Proses seperti itu disebut pembagian, namun pembagian di sini memiliki taraf yang lebih tinggi dan disebut klasifikasi.

VI. KETERKAITAN PENALARAN DALAM PROSES PENULISAN ILMIAH

Suatu karangan sesederhana apapun akan mencerminkan kualitas penalaran seseorang. Penalaran itu akan tampak dalam pola pikir penyusuan karangan itu sendiri. Penalaran dalam suatu karangan ilmiah mencakup 5 aspek. Kelima aspek tersebut adalah:

1) Aspek Keterkaitan
Aspek keterkaitan adalah hubungan antar bagian yang satu dengan yang lain dalam suatu karangan. Artinya, bagian-bagian dalam karangan ilmiah harus berkaitan satu sama lain. Pada pendahuluan misalnya, antara latar belakang masalah – rumusan masalah – tujuan – dan manfaat harus berkaitan. Rumusan masalah juga harus berkaitan dengan bagian landasan teori, harus berkaitan dengan pembahasan, dan harus berkaitan juga dengan kesimpulan.

2) Aspek Urutan
Aspek urutan adalah pola urutan tentang suatu yang harus didahulukan atau ditampilkan kemudian dari hal yang paling mendasar ke hal yang bersifat pengembangan. Suatu karangan ilmiah harus mengikuti urutan pola pikir tertentu. Pada bagian Pendahuluan, dipaparkan dasar-dasar berpikir secara umum. Landasan teori merupakan paparan kerangka analisis yang akan dipakai untuk membahas. Baru setelah itu persoalan dibahas secara detail dan lengkap. Di akhir pembahasan disajikan kesimpulan atas pembahasan sekaligus sebagai penutup karangan ilmiah.


3) Aspek argumentasi
Aspek argumentasi adalah bagian yang menyatakan fakta, analisis terhadap fakta, pembuktian suatu pernyataan, dan kesimpulan dari hal yang telah dibuktikan. Hampir sebagian besar isi karangan ilmiah menyajikan argumen-argumen mengapa masalah tersebut perlu dibahas (pendahuluan), pendapat-pendapat atau temuan-temuan dalam analisis harus memuat argumen-argumen yang lengkap dan mendalam.

4) Aspek Teknik Penyusunan
Aspek teknik penyusunan adalah bagaimana pola penyusunan yang dipakai, apakah digunakan secara konsisten, karangan ilmiah harus disusun dengan pola penyusunan tertentu dan terknik bersifat baku dan universal. Untuk itu pemahaman terhadap teknik penyusunan karangan ilmiah merupakan syarat multak yang harus dipenuhi jika orang akan menyusun karangan ilmiah.

5) Aspek Bahasa
Aspek bahasa adalah bagaimana penggunaan bahasa karangan ilmiah harus disusun dengan bahasa yang baik, benar dan ilmiah. Penggunaan bahasa yang tidak tepat justru akan mengurangi kadar keilmiahan suatu karya sastra lebih-lebih untuk karangan ilmiah akademis

DAFTAR PUSTAKA



Berpikir Induktif



Kata Pengantar

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala limpahan Rahmat, Inayah, Taufik dan Hinayahnya sehingga saya dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini dalam bentuk maupun isinya yang sangat sederhana. Semoga makalah ini dapat dipergunakan sebagai salah satu acuan, petunjuk maupun pedoman bagi pembaca.
Harapan saya semoga makalah ini membantu menambah pengetahuan dan pengalaman bagi para pembaca, sehingga saya dapat memperbaiki bentuk maupun isi makalah ini sehingga kedepannya dapat lebih baik.

BAB 1 PENDAHULUAN

1.      Latar Belakang
2.      Rumusan Masalah
3.      Tujuan Penulisan

BAB 2 PEMBAHASAN

1.      Konsep Berpikir Induktif
2.      Konsep Bernalar dalam Karangan
3.      Konsep Generalisasi
4.      Hipotesis dan Teori
5.      Analogi
6.      Induksi dalam Metode Eksposisi

BAB 3 PENUTUP 

Kesimpulan
Daftar Pustaka

BAB 1
PENDAHULUAN

1.      Latar Belakang
Pencarian pengetahuan yang benar harus berlangsung menurut prosedur atau kaedah hukum, yaitu berdasarkan logika. Sedangkan aplikasi dari logika dapat disebut dengan penalaran dan pengetahuan yang benar dapat disebut dengan pengetahuan ilmiah. Untuk memperoleh pengetahuan ilmiah dapat digunakan dua jenis penalaran, yaitu Penalaran Deduktif dan Penalaran Induktif. Penalaran deduktif merupakan prosedur yang berpangkal pada suatu peristiwa umum, yang kebenarannya telah diketahui atau diyakini, dan berakhir pada suatu kesimpulan atau pengetahuan baru yang bersifat lebih khusus. Metode ini diawali dari pebentukan teori, hipotesis, definisi operasional, instrumen dan operasionalisasi. Dengan kata lain, untuk memahami suatu gejala terlebih dahulu harus memiliki konsep dan teori tentang gejala tersebut dan selanjutnya dilakukan penelitian di lapangan. Dengan demikian konteks penalaran deduktif tersebut, konsep dan teori merupakan kata kunci untuk memahami suatu gejala. Penalaran induktif merupakan prosedur yang berpangkal dari peristiwa khusus sebagai hasil pengamatan empirik dan berakhir pada suatu kesimpulan atau pengetahuan baru yang bersifat umum. Dalam hal ini penalaran induktif merupakan kebalikan dari penalaran deduktif. Dengan demikian, untuk mendapatkan pengetahuan ilmiah kedua penalaran tersebut dapat digunakan secara bersama-sama dan saling mengisi, dan dilaksanakan dalam suatu wujud penelitian ilmiah yang menggunakan metode ilmiah dan taat pada hukum-hukum logika.

Rumusan Masalah

1.      Apakah yang dimaksud dengan Penalaran Induktif ?

Tujuan Penulisan

1.      Mengetahui definisi Penalaran Induktif.
2.      Memahami arti Penalaran Induktif.
3.      Mampu menjelaskan Penalaran Induktif.

BAB 2
PEMBAHASAN

1.      Konsep Berpikir Induktif
Jalan induksi mengambil jalan tengah, yakni di antara jalan yang memeriksa cuma satu bukti saja dan jalan yang menghitung lebih dari satu, tetapi boleh dihitung semuanya satu persatu. Induksi mengandaikan, bahwa karena beberapa (tiada semuanya) di antara bukti yang diperiksanya itu benar, maka sekalian bukti lain yang sekawan, sekelas dengan dia benar pula.
Buat contoh penegasan kita kembali pada masyarakat Yunani, masyarakat yang sebenarnya merintis kesopanan manusia. Lama sudah terpendam dalam otaknya Archimedes, pemikir Yunani yang hidup 250 tahun sebelum Masehi, persoalan: apa sebab badan yang masuk barang yang cair itu, jadi enteng kekurangan berat? Ketika mandi, maka jawab persoalan tadi tiba-tiba tercantum di matanya dan kegiatan yang memasuki jiwanya menyebabkan dia lupa akan adat istiadat negara dan bangsanya. Dengan melupakan pakaiannya, ia keluar dari tempat mandinya dengan bersorak-sorakkan “heureuka” saya dapati, saya dapati, adalah satu contoh lagi dari kuatnya nafsu ingin tahu dan lazatnya obat haus “ingin” tahu itu. Archimedes menjalankan experiment yang betul, ialah badannya sendiri, yang jadi benda yang dicemplungkan ke dalam air buat mandi. Dengan cara berpikir, yang biasa dipakainya sebagai pemikir besar, ia bisa bangunkan satu undang yang setiap pemuda yang mau jadi manusia sopan mesti mempelajari dalam sekolah di seluruh pelosok dunia sekarang.
Menurut undang Archimedes, maka kalau benda yang padat (solid) terbenam pada barang cair, maka benda tadi kehilangan berat sama dengan berat zat cair yang dipindahkan oleh benda itu.Tegasnya kalau berat Archimedes di luar air umpamanya B gram dan berat air yang dipindahkan oleh badan Achimedes b gram, maka berat Archimedes dalam air tidak lagi B gram, melainkan (B-b) gr.
Dengan contoh dirinya sendiri sebagai benda dan air sebagai barang cair, maka simpulan yang didapatkan Archimedes dalam tempat mandi itu belumlah boleh dikatakan undang. Semua benda dalam alam, kalau dicemplungkan ke dalam semua zat cair mestinya kekurangan berat sama dengan berat-zat cair yang dipindahkan oleh benda itu. Kalau semuanya takluk pada kesimpulan tadi, barulah kesimpulan itu akan jadi Undang dan barulah Archimedes tak akan dilupakan oleh manusia sopan, manusia yang betul-betul terlatih sebagai bapak undang itu. (Madilog. hal 100-101 Tan Malaka, Pusat Data Indikator)
Metode berpikir induktif adalah metode yang digunakan dalam berpikir dengan bertolak dari hal-hal khusus ke umum. Hukum yang disimpulkan difenomena yang diselidiki berlaku bagi fenomena sejenis yang belum diteliti. Generalisasi adalah bentuk dari metode berpikir induktif. Contoh:
§  Jika dipanaskan, besi memuai.
§  Jika dipanaskan, tembaga memuai.
§  Jika dipanaskan, emas memuai.
§  Jika dipanaskan, platina memuai.
§  Jika dipanaskan, logam memuai.
§  Jika ada udara, manusia akan hidup.
§  Jika ada udara, hewan akan hidup.
§  Jika ada udara, tumbuhan akan hidup.
§  Jika ada udara mahkluk hidup akan hidup.

2.      Konsep Bernalar dalam Karangan

Dalam praktek proses deduktif dan induktif itu diwujudkan dalam satuan--satuan tulisan yang merupakan paragraf. Di dalam paragraf suatu pernyataan umum membentuk kalimat utama yang mengandung gagasan utama yang dikernbangkan dalarn paragraf itu. Dengan demikian ada paragraf deduktif de-ngan kalimat utama pada awal paragraf, paragraf induktif dengan kalimat utama.
pada akhir paragraf, dan ada pula paragraf dengan kalimat utama pada awal dan akhirnya.
Proses deduktif dan induktif itu juga diterapkan dalam mengembangkan seluruh karangan. Paragraf-paragrat deduktif dan induktif mungkin dipergunakan secara bergantian, bergantung kepada gaya yang dipilih penulis sesuai dengan efek dan tekanan yang ingin diberikannya. Karya ilmiah merupakan sintesis antara proses deduktif dan induktif, Kedua proses itu terlihat secara jelas.
Yang diuraikan di atas ialah arah atau alur penalaran dan bagaimana per-wujudannya di dalam tulisan atau karangan. Pada bagian berikut akan dibahas wujud penalaran dihubungkan dengan urutan pengembangan dan isi karangan. Dalam hal ini, karena paragraf pada hakikatnya merupakan suatu karangan mini maka contoh-contoh yang diberikan sebagian besar berupa paragraf.

3.      Konsep Generalisasi

Generalisasi adalah proses penalaran yang bertolak dari fenomena individual menuju kesimpulan umum.
Contoh:

Jika ada udara, manusia akan hidup.
Jika ada udara, hewan akan hidup.
Jika ada udara, tumbuhan akan hidup.
Jika ada udara mahkluk hidup akan hidup



Macam-Macam Generalisasi
Generalisasi sempurna Adalah generalisasi dimana seluruh fenomena yang menjadi dasar penyimpulan diselidiki.
Contoh: sensus penduduk
Generalisasi Tidak Sempurna
Adalah generalisasi dimana kesimpulan diambil dari sebagian fenomena yang diselidiki diterapkan juga untuk semua fenomena yang belum diselidiki.
Contoh: Hampir seluruh pria dewasa di Indonesia senang memakai celana pantalon.
4.      Hipotesis dan Teori
Definisi Hipotesis

Hipotesis atau hipotesa adalah jawaban sementara terhadap masalah yang masih bersifat praduga karena masih harus dibuktikan kebenarannya. Hipotesis berasal dari bahasa Yunani: hypo = di bawah;thesis = pendirian, pendapat yang ditegakkan, kepastian. Artinya, hipotesa merupakan sebuah istilah ilmiah yang digunakan dalam rangka kegiatan ilmiah yang mengikuti kaidah-kaidah berfikir biasa, secara sadar, teliti, dan terarah.Dalam penggunaannya sehari-hari hipotesa ini sering juga disebut dengan hipotesis, tidak ada perbedaan makna di dalamnya.

Definisi Teori

Teori adalah serangkaian bagian atau variabel, definisi, dan dalil yang saling berhubungan yang menghadirkan sebuah pandangan sistematis mengenai fenomena dengan menentukan hubungan antar variabel, dengan menentukan hubungan antar variabel, dengan maksud menjelaskan fenomena alamiah. Labovitz dan Hagedorn mendefinisikan teori sebagai ide pemikiran “pemikiran teoritis” yang mereka definisikan sebagai “menentukan” bagaimana dan mengapa variable - variabel dan pernyataan hubungan dapat saling berhubungan.

5.      Analogi
Analogi dalam ilmu bahasa adalah persamaan antar bentuk yang menjadi dasar terjadinya bentuk-bentuk yang lain. Analogi merupakan salah satu proses morfologi dimana dalam analogi, pembentukan kata baru dari kata yang telah ada. Contohnya pada kata dewa-dewi, putra-putri, pemuda-pemudi, dan karyawan-karyawati.

Jenis-jenis Analogi

Analogi induktif:

Analogi induktif, yaitu analogi yang disusun berdasarkan persamaan yang ada pada dua fenomena, kemudian ditarik kesimpulan bahwa apa yang ada pada fenomena pertama terjadi juga pada fenomena kedua. Analogi induktif merupakan suatu metode yang sangat bermanfaat untuk membuat suatu kesimpulan yang dapat diterima berdasarkan pada persamaan yang terbukti terdapat pada dua barang khusus yang diperbandingkan.
Contoh analogi induktif : 
Tim Uber Indonesia mampu masuk babak final karena berlatih setiap hari. Maka tim Thomas Indonesia akan masuk babak final jika berlatih setiap hari.

Analogi deklaratif:

Analogi deklaratif merupakan metode untuk menjelaskan atau menegaskan sesuatu yang belum dikenal atau masih samar, dengan sesuatu yang sudah dikenal. Cara ini sangat bermanfaat karena ide-ide baru menjadi dikenal atau dapat diterima apabila dihubungkan dengan hal-hal yang sudah kita ketahui atau kita percayai.
Contoh analogi deklaratif: 
Deklaratif untuk penyelenggaraan negara yang baik diperlukan sinergitas antara kepala negara dengan warga negaranya. Sebagaimana manusia, untuk mewujudkan perbuatan yang benar diperlukan sinergitas antara akal dan hati.
.
6.      Induksi dalam Metode Eksposisi
Eksposisi adalah salah satu jenis pengembangan paragraf dalam penulisan yang dimana isinya ditulis dengan tujuan untuk menjelaskan atau memberikan pengertian dengan gaya penulisan yang singkat, akurat, dan padat.
Karangan ini berisi uraian atau penjelasan tentang suatu topik dengan tujuan memberi informasi atau pengetahuan tambahan bagi pembaca. Untuk memperjelas uraian, dapat dilengkapi dengan grafik, gambar atau statistik. Sebagai catatan, tidak jarang eksposisi ditemukan hanya berisi uraian tentang langkah/cara/proses kerja. Eksposisi demikian lazim disebut paparan proses.
Langkah menyusun eksposisi:
§  Menentukan topik/tema
§  Menetapkan tujuan
§  Mengumpulkan data dari berbagai sumber
§  Menyusun kerangka karangan sesuai dengan topik yang dipilih
§  Mengembangkan kerangka menjadi karangan eksposisi.

BAB 3
PENUTUP

KESIMPULAN

Dari hasil makalah tentang penalaran dan jenis-jenisnya di atas, maka dapat disimpulkan bahwa banyak sekali yang dapat kita pelajari dari penalaran tersebut.  Bentuk pemikiran manusia adalah aktivitas berpikir yang saling berkait. Tidak ada ada proposisi tanpa pengertian dan tidak akan ada penalaran tanpa proposisi. Bersama – sama dengan terbentuknya pengertian perluasannya akan terbentuk pula proposisi dan dari proposisi akan digunakan sebagai premis bagi penalaran. Atau dapat juga dikatakan untuk menalar dibutuhkan proposisi sedangkan proposisi merupakan hasil dari rangkaian pengertian.Penalaran dalam prosesnya ada 2 macam yaitu penalaran Deduktif dan penalaran Induktif.Penalaran Deduktif adalah metode berpikir yang menerapkan hal-hal yang umum terlebih dahulu untuk seterusnya dihubungkan dalam bagian-bagiannya yang khusus. Penalaran Induktif adalah metode yang digunakan dalam berpikir dengan bertolak dari hal-hal khusus ke umum.

DAFTAR PUSTAKA

1.      Arifin, E Zaenal dan  Tasai, S Amran. 2006. Cermat Berbahasa Indonesia. Jakarta: Akademika Pressindo.
2.      Tukan, P. 2006. Mahir Berbahasa Indonesia. Jakarta: PT. Ghalia Indonesia.
3.      Tatang, Atep et all. 2009. Bahasa Indonesiaku Bahasa Negeriku 3. Solo: PT. Tiga Serangkai Pustaka Mandiri.
4.      http://bangbiw.com/definisi-berfikir-induktif-dan-contohnya/
6.   http://zefara-azzahra.blogspot.co.id/2015/01/deduktif-induktif-generalisasi-analogi.html