Rancangan Aplikasi Gambar 3D Hewan Laut Berbasi Augmented Reality

Rancangan Aplikasi Gambar 3D Hewan Laut Berbasi Augmented Reality
Rizky Rama Putra
Jurusan Sistem Informasi
Fakultas Ilmu Komputer dan Teknologi Informasi, Universitas Gunadarma

ABSTRAK
            Seiring dengan perkembangan zaman dan kemajuan teknologi. Memudahkan Manusia untuk melakukan aktifitas untuk memaksimalkan banyak pekerjaan, dengan adanya teknologi Augmented Reality (AR) membantu menampilkan bentuk tiga dimensi kedalam bentuk nyata membuat adanya ketertarikan dan pembelajaran baru untuk merangsang otak untuk berimajinasi. Sehingga dalam kemajuan teknologi AR membantu pembelajaran dengan cara yang menyenangkan melihat objek tiga dimensi di dunia nyata.



1.1.Latar belakang masalah
Kemajuan dunia teknologi informasi berkembang begitu cepat penemuan dan inovasi telah membawa perubahan dalam kehidupan manusia. Kehadiran teknologi ini telah memudahkan manusia melakukan aktifitas teknologi informasi, dimaksudkan untuk mencapaikan hasil secara efisien, efektif dan ketepatan pengguna. dengan kemajuan ini telah terciptanya teknologi smartphone berbasis android.
Android merupakan sistem operasi yang dikembangkan android inc dan di dukung oleh google finansial, android berkembang menjadi suatu perhatian manusia, bukan hanya untuk sekedar hiburan tetapi juga mempermudah pekerjaan di banyak bidang. Salah satunya di bidang pendidikan, dengan membuat aplikasi untuk mengajarkan siswa-siswi Taman Kanak-kanak (TK) berbasis android untuk membantu merangsang imajinasi dan kreatifitas.
Media pembelajaran menggunakan penggabungan media cetak dan media digital dapat diwujudkan dengan adanya Augmented Reality (AR). Augmented Reality merupakan teknologi yang menggabungkan benda maya dua dimensi atau tiga dimensi kedalam sebuah lingkungan nyata tiga dimensi dan memproyeksikan benda maya dalam waktu nyata.
Augmented Reality di bidang pendidikan membuat adanya pengalaman pembelajaran yang baru. Menggunakan objek tiga dimensi dalam waktu nyata, membuat adanya ketertarikan siswa dalam belajar dan untuk memajukan dibidang pendidikan. Salah satu yang menarik bagi siswa taman kanak-kanak untuk mengajarkan makhluk hidup mamalia laut kedalam objek tiga dimensi dalam waktu nyata.
1.2. Batasan masalah
Pada penulisan ini agar lebih terarah dan terfokus pada tujuan yang ingin dicapai, maka ruang lingkup dalam pembuatan aplikasi ini yaitu memperkenalkan hewan laut Lumba-lumba, Lumba-lumba hidung botol, Hiu , Hiu kepala martil, Orca, dan Paus. Yang disajikan dengan gambar tiga dimensi berbasis android. Pembuatan aplikasi ini menggunakan Unity dan blender.
1.3. Tujuan penulisan
Tujuan penulisan ini adalah untuk membuat aplikasi Augmented Reality yang berjalan pada smartphone dengan sistem operasi android untuk meperkenalkan hewan mamalia laut dengan gambar tiga dimensi kepada siswa dan siswi taman kanak-kanak agar merangsang imajinasi dan kreatifitas.
1.4. Metode penelitian
Pada penulisan ini penulis menggunakan beberapa metode penelitian yaitu:
a.       Analisis
Analisis dilakukan untuk mengetahui kebutuhan sistem yang diperlukan untuk pembuatan dan penggunaan aplikasi AR.
b.      Perancangan
Tahap ini dimulai dari perancangan objek tiga dimensi, pencangan design marker, relasi antara marker dan objek tiga dimensi.
c.       Penentuan perangkat keras dan lunak
Penelitain ini membutuhkan operasional pada sistem yaitu  perangkat keras untuk membangun system serta perangkat lunak.
1.      Perangkat keras yang digunakan dalam penelitin ini adalah :
-          Laptop dengan processor core i5
-          Kapasitas Random Access Memory (RAM) 8GB
-          Harddisk dengan kapasitas 500GB
-          VGA NVIDIA GEFORCE 920M
-          Handphone android
2.      Perangkat lunak
-          Unity 5.3.4f1 (64-bit)
-          Blender
d.      Implementasi
Tahap implementasi, penulis mengimplimentasikan semua rancangan ya sudah di rancang yaitu perancangan objek tiga dimensi, perancangan design marker, relasi antar marker dan objek tiga dimensi serta membuat aplikasi.
e.       Uji coba dan analisis
Pada penelitian ini penulis melakukan uji coba dan analisis untuk melihat apakah aplikasi yang telah dibuat berjalan sesuai harapan dan tujuan.

Kesimpulan dan Saran
1.      Kesimpulan
Dari proses analisis dan perancangan aplikasi ini jelas untuk mengembangkan imajinasi anak mengetahui bentuk dan model yang nyata bukan hanya sekedar dari gambar yang biasa di lihat di katalog atau majalah-majalah saja

2.      Saran
Untuk pengembangan aplikasi selanjutnya lebih di perhalus dari objek-objek yang di buat untuk lebih sempurna lagi dan lebih menarik

DAFTAR PUSAKA







laporan ilmiah

Laporan Ilmiah
Laporan ilmiah adalah pemecahan suatu problem atau jawaban suatu pertanyaan, yang didukung oleh fakta yang dibuktikan benarnya oleh penulisnya.
Laporan itu adalah bentuk prosa ilmiah yang dikembangkan untuk keperluan sains, kria,dan usaha. Dan biasanya ditulis atas permintaan,perintah atau jasa komisi, walaupun kadang - kadang laporan itu diterbitkan atas kehendak dan biaya penulisnya sendiri.
Unsur-unsur Kerangka Laporan
Unsur-unsur sebagai berikut :
Halaman Judul
Biasanya terdiri dari 3 atau 4 bagian yang disusun dari atas bawah sebagai berikut :


a)      Judul laporan terdiri dari subjek, atau didahului dengan ‘Laporan Tentang’, ’Laporan Kemajuan tentang’, ’Laporan Tahunan tentang’, ‘Penelitian tentang’ dan sebagainya. Judul laporan berbeda dari judul buku.


b)      Nama dan identitas penerima laporan

Unsur ini tidak selalu ditulis. Jika ditulis, maka sebelumnya didahului dengan kata-kata 'Diserahkan kepada'. Jika penerima laporan memiliki kedudukan resmi, tulislah kedudukan itu


c)      Nama dan identitas penulis

Sebelum nama penulis biasanya didahului dengan perkataan 'Oleh' dan diikuti oleh gelar.


d)      Tempat dan tanggal

Dibagian bawah halaman ditulis tempat dan tanggal dalam 2 baris terpisah.
Manfaat Penyusunan Laporan
Laporan kegiatan merupakan alat yang penting untuk :


·         Dasar penentuan kebijakan dan pengarahan pimpinan.


·         Bahan penyusunan rencana kegiatan berikutnya.


·         Mengetahui perkembangan dan proses peningkatan kegiatan.


·         Data sejarah perkembangan satuan yang bersangkutan dan lain-lain
Praktik Menyusun Laporan Ilmiah
1. Bagian Pembuka
Cover
Halaman judul
Halaman pengesahan
Abstraksi
Kata pengantar
Daftar isi
2. Bagian Isi
         Bab I Pendahuluan
                1.1    Latar belakang masalah
                1.2    Perumusan masalah
                1.3    Pembahasan atau pembatasan masalah
                1.4    Tujuan penelitian
                1.5    Manfaat penelitian
        Bab II Kajian teori atau tinjauan kepustakaan
                2.1    Pembahasan teori
                2.2    Kerangka pemikiran dan argumentasi keilmuan
                2.3    Pengajuan hipotesis
       Bab III Metodologi penelitian
                3.1    Waktu dan tempat penelitian
                3.2    Metode dan rancangan penelitian
                3.3    Populasi dan sampel
                3.4    Instrumen penelitian
                3.5    Pengumpulan data dan analisis data
       Bab IV Hasil Penelitian
                4.1    Jabaran varibel penelitian
                4.2    Hasil penelitian
                4.3    Pengajuan hipotesis
                4.4    Diskusi penelitian, mengungkapkan pandangan teoritis tentang hasil yang didapatnya
       Bab V Penutupan
5.1       Kesimpulan
5.2    Saran
3. Bagian penunjang


·         Daftar pustaka


·         Lampiran- lampiran antara lain instrumen penelitian


·         Daftar Tabel

Penyajian Lisan
Latar Belakang Keterampilan berbahasa mencakup empat komponen dasar ,yaitu menyimak, berbicara, membaca dan menulis. Keempat keterampilan ini diperoleh secara bertahap dan teratur serta berhubungan satu sama lain. Meskipun keterampilan berbicara ini telah diperoleh oleh setiap orang ketika masa kanak-kanak, kebutuhan mahasiswa akan kemampuan berbicara tak dapat diabaikan begitu saja. Penyajian lisan dapat disejajarkan dengan berbicara. Berbicara adalah suatu keterampilan berbahasa yang berkembang pada kehidupan masa kanak-kanak yang hanya didahului oleh keterampilan menyimak, pada massa tersebutlah keterampilan berbicara dipelajari. Berbicara sudah barang tentu berhubungan erat dengan perkembangan kosakata yang diperoleh oleh setiap orang melalui kegiatan menyimak dan membaca atau juga menulis. Untuk memenuhi kebutuhan pembelajarannya, kebutuhan mahasiswa akan berbicara tidak lagi mengarah ke situ, tetapi lebih berorientasi kepada proses penyajian lisan sebagai wadah penyampaian suatu gagasan. Kemahiran dalam penyajian lisan bukan hanya menuntut penggunaan bahasa yang baik dan lancar melainkan juga menghendaki persyaratan-persyaratan lain, misalnya : kebenaran, ketenangan sikap, kesanggupan mengadakan reaksi yang cepat dan tepat, kesanggupan menampilkan gagasan-gagasannya secara lancar dan teratur, serta ketidakkakuan dan ketidakcanggungan gerak. Seiring dengan perkembangan bahwa penyajian lisan itu sudah menjadi salah satu kebutuhan mahasiswa. Alasannya bahwa di samping mahasiswa harus mampu mengungkapkan pikiran,gagasan,dan sikap ilmiahnya ke dalam berbagai bentuk karya ilmiah yang berkualitas, juga mereka harus mampu menyajikan karya ilmiah yang ditulisnya di depan forum sesuai dengan kriteria penyajian yang baik. Untuk hal tersebut, berikut akan disajikan dua bentuk penyajian lisan, yaitu presentasi ilmiah dan berpidato.

Daftar Pustaka



ASPEK PENALARAN DALAM KARANGAN ILMIAH

I.       PENALARAN ILMIAH

Setiap hipotesis berguna akan memungkinkan prediksi berdasarkan penalaran. Penalaran dapat dibagi menjadi dua kategori: deduksi dan induksi. Kebanyakan penalaran dalam ilmu dilakukan melalui induksi. Menurut Menurut Minto Rahayu, (2007 : 35), “Penalaran adalah proses berpikir yang sistematis untuk memperoleh kesimpulan atau pengetahuan yang bersifat ilmiah dan tidak ilmiah. Bernalar akan membantu manusia berpikir lurus, efisien, tepat, dan teratur untuk mendapatkan kebenaran dan menghindari kekeliruan. Dalam segala aktifitas berpikir dan bertindak, manusia mendasarkan diri atas prinsip penalaran. Bernalar mengarah pada berpikir benar, lepas dari berbagai prasangka emosi dan keyakinan seseorang, karena penalaran mendidik manusi bersikap objektif, tegas, dan berani, suatu sikap yang dibutuhkan dalam segala kondisi”.
Sedangkan Widjono, (2007 : 2009), mengungkapkan penalaran dalam beberapa definisi, yaitu:
·         Proses berpikir logis, sistematis, terorganisasi dalam urutan yang saling berhubungan sampai dengan simpulan.
·         Menghubung-hubungkan fakta atau data sampai dengan suatu simpulan.
·         Proses menganalisis suatu topik sehingga menghasilkan suatu simpulan atau pengertian baru.
·         Dalam karangan terdiri dari dua variabel atau lebih, penalaran dapat diartikan mengkaji, membahas, atau menganalisis dengan menghubungkan variabel yang dikaji sampai menghasilkan suatu derajat hubungan dan simpulan.
·         Pembahasan suatu masalah sampai menghasilkan suatu simpulan yang berupa pengetahuan atau pengertian baru.
Jadi, dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa penalaran adalah proses pemikiran yang logis untuk memperoleh kesimpulan berdasarkan fakta yang relevan (sebenarnya). Atau dengan kata lain, penalaran adalah proses penafsiran fakta sebagai dasar untuk menghasilkan dan menarik kesimpulan.


II.  MENULIS SEBAGAI PROSES PENALARAN

Menulis merupakan proses bernalar. Untuk menulis suatu topik kita harus berfikir, menghubung-hubungkan berbagai fakta, membandingkan dan sebagainya.

 III. Jenis Penalaran
Minto Rahayu, (2007 : 41), penalaran dapat dibedakan dengan cara induktif dan deduktif.
1)      Penalaran induktif
Ialah proses berpikir yang bertolak dari satu atau sejumlah fenomena atau gejala individual untuk menurunken suatu kesimpulan (inferesi) yang berlaku umum.
Proses induksi dapat dibedakan menjadi:
  • Generalisasi  ialah proses berpikir berdasarkan pengamatan atas sejumlah gejala dengan sifat-sifat tertentu untuk menarik kesimpulan umum mengenai semua atau sebagian dari gejala serupa.
  • Analogi ialah suatu proses berpikir untuk menarik kesimpulan atau inferensi tentang kebenaran suatu gejala khusus berdasarkan beberapa gejala khusus lain yang memiliki sifat-sifat atau ciri-ciri esensial penting yang bersamaan.
  • Sebab akibat, prinsip umum hubungan sebab akibat menyatakan bahwa semua peristiwa harus ada penyebabnya.

2)      Penalaran deduktif
Ialah proses berpikir yang bertolak dari prinsip, hukum, putusan yang berlaku umum tentang suatu hal atau gejala atas prinsip umum tersebut ditarik kesimpulan tentang sesuatu yang khusus, yang merupakan bagian dari hal atau gejala diatas.

IV. Isi Karangan
Isi karangan menyajikan fakta yang berupa benda, kejadian, gejala, sifat ramalan, dan sebagiannya. Karya ilmiah membahas fakta meskipun untuk pembahasan ini diperlukan teori atau pendapat. Dalam bagian ini akan dibahas hal-hal yang berhubungan dengan fakta, yaitu generalisasi dan spesifikasi, klasifikasi, perbandingan dan pertentangan, hubungan sebab akibat, analogi, dan ramalan.


V. Fakta Sebagai Unsur dalam Penalaran Ilmiah

Agar dapat menalar dengan tepat, perlu kita memiliki pengetahuan tentang fakta yang berhubungan. Jumlah fakta tak terbatas, sifatnya pun beraneka ragam. Oleh sebab itu, sebagai unsur dasar dalam penalaran ilmiah, kita harus mengetahui apa pengertian dari fakta.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), fakta memiliki definisi sebagai hal (keadaan atau peristiwa) yang merupakan kenyataan; sesuatu yang benar-benar ada atau terjadi. Selain itu, fakta juga merupakan pengamatan yang telah diverifikasi secara empiris (sesuai dengan bukti atau konsekuensi yang teramati oleh indera). Fakta bila dikumpulkan secara sistematis dengan beberapa sistem serta dilakukan secara sekuensial maka fakta tersebut mampu melahirkan sebuah ilmu. Sebagai kunci bahwa fakta tidak akan memiliki arti apa-apa tanpa sebuah teori dan fakta secara empiris dapat melahirkan sebuah teori baru.

Untuk memahami hubungan antara fakta-fakta yang sangat banyak itu, kita perlu mengenali fakta-fakta itu secara sendiri-sendiri. Ini berarti bahwa kita harus mengetahui ciri-cirinya dengan baik. Dengan begitu, kita dapat mengenali hubungan di antara fakta-fakta tersebut dengan melakukan penelitian.

Selain itu, kita dapat menggolong-golongkan sejumlah fakta ke dalam bagian-bagian dengan jumlah anggota yang sama banyaknya. Proses seperti itu disebut pembagian, namun pembagian di sini memiliki taraf yang lebih tinggi dan disebut klasifikasi.

VI. KETERKAITAN PENALARAN DALAM PROSES PENULISAN ILMIAH

Suatu karangan sesederhana apapun akan mencerminkan kualitas penalaran seseorang. Penalaran itu akan tampak dalam pola pikir penyusuan karangan itu sendiri. Penalaran dalam suatu karangan ilmiah mencakup 5 aspek. Kelima aspek tersebut adalah:

1) Aspek Keterkaitan
Aspek keterkaitan adalah hubungan antar bagian yang satu dengan yang lain dalam suatu karangan. Artinya, bagian-bagian dalam karangan ilmiah harus berkaitan satu sama lain. Pada pendahuluan misalnya, antara latar belakang masalah – rumusan masalah – tujuan – dan manfaat harus berkaitan. Rumusan masalah juga harus berkaitan dengan bagian landasan teori, harus berkaitan dengan pembahasan, dan harus berkaitan juga dengan kesimpulan.

2) Aspek Urutan
Aspek urutan adalah pola urutan tentang suatu yang harus didahulukan atau ditampilkan kemudian dari hal yang paling mendasar ke hal yang bersifat pengembangan. Suatu karangan ilmiah harus mengikuti urutan pola pikir tertentu. Pada bagian Pendahuluan, dipaparkan dasar-dasar berpikir secara umum. Landasan teori merupakan paparan kerangka analisis yang akan dipakai untuk membahas. Baru setelah itu persoalan dibahas secara detail dan lengkap. Di akhir pembahasan disajikan kesimpulan atas pembahasan sekaligus sebagai penutup karangan ilmiah.


3) Aspek argumentasi
Aspek argumentasi adalah bagian yang menyatakan fakta, analisis terhadap fakta, pembuktian suatu pernyataan, dan kesimpulan dari hal yang telah dibuktikan. Hampir sebagian besar isi karangan ilmiah menyajikan argumen-argumen mengapa masalah tersebut perlu dibahas (pendahuluan), pendapat-pendapat atau temuan-temuan dalam analisis harus memuat argumen-argumen yang lengkap dan mendalam.

4) Aspek Teknik Penyusunan
Aspek teknik penyusunan adalah bagaimana pola penyusunan yang dipakai, apakah digunakan secara konsisten, karangan ilmiah harus disusun dengan pola penyusunan tertentu dan terknik bersifat baku dan universal. Untuk itu pemahaman terhadap teknik penyusunan karangan ilmiah merupakan syarat multak yang harus dipenuhi jika orang akan menyusun karangan ilmiah.

5) Aspek Bahasa
Aspek bahasa adalah bagaimana penggunaan bahasa karangan ilmiah harus disusun dengan bahasa yang baik, benar dan ilmiah. Penggunaan bahasa yang tidak tepat justru akan mengurangi kadar keilmiahan suatu karya sastra lebih-lebih untuk karangan ilmiah akademis

DAFTAR PUSTAKA